Menembus Benteng Rimba, 4 Generasi Muda SAD Sarolangun Sukses Jadi Prajurit TNI dan Polri

LAMANJAMBI.COM, — Populasi warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun mencapai 1.443 jiwa dari 418 Kepala Keluarga (KK).

Ribuan masyarakat ini hidup dibeberapa kecamatan, diantaranya kecamatan Air Hitam, Kecamatan Batin VIII, Kecamatan Limun, Kecamatan Mandiangin, Kecamatan Cermin Nan Gedang. Dari lima kecamatan ini, yang paling banyak ada di Kecamatan Air Hitam dengan rincian sebagai berikut.

​Kecamatan Air Hitam yang tersebar di Desa Bukit Suban (573 jiwa), Pematang Kabau (184 jiwa), dan Lubuk Jering (24 jiwa / 13 KK) telah menempati rumah bantuan pemerintah. Sementara pendataan berkelanjutan masih terus berjalan bagi warga di Desa Jernih (110 jiwa / 25 KK) dan Desa Lubuk Kepayang (29 jiwa / 9 KK).

​Kecamatan Batin VIII tersebar di Desa Suka Jadi (75 jiwa), Desa Pulau Lintang (91 jiwa), dan Desa Limbur Tembesi (38 jiwa). Namun, sebanyak 43 jiwa warga SAD di Desa Tanjung.

​Kecamatan Limun di Desa Lubuk Bedorong (71 jiwa / 17 KK) sudah menerima bantuan hunian, sementara warga di Desa Demang (5 jiwa / 1 KK) terus mendapatkan pendampingan. Adapun pendamping Andre melaporkan sebanyak 242 jiwa (51 KK) di Desa Suka Damai.

Baca Juga :  KPU Muaro Jambi Terima 4 Berkas Calon Bupati

​Kecamatan Mandiangin sebanyak 114 jiwa (29 KK) yang bermukim di Desa Gurun Tuo. Dan ​Kecamatan Cermin Nan Gedang / CNG sebanyak 79 jiwa (17 KK) warga SAD di Desa Sekamis.

Meski hanya sebagai Suku minoritas yang notabene dari pedalaman, generasi muda Komunitas Adat Terpencil (KAT) atau Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun membuktikan kualitasnya dengan menembus institusi pertahanan dan keamanan negara, mulai dari TNI Angkatan Darat hingga Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Data Dinas Sosial Kabupaten Sarolangun mencatat sejumlah nama putra daerah dari ceruk rimba yang kini resmi berseragam loreng dan cokelat, diantaranya Budi yang berasal dari Desa Lubuk Jering sukses menjadi Anggota TNI AD, kemudian ​Perbal dari Desa Bukit Suban menjadi Anggota POLRI, Amirudin dari Desa Bukit Tanjung menjdi Anggota TNI dan ​Muhammad Supriyanto dari Desa Tanjung yang sukses menjadi Anggota TNI.

​Tak hanya di korps TNI-Polri, jejak sukses ini juga diikuti generasi muda SAD di jalur pendidikan tinggi dan dunia profesional, seperti Kurni (Desa Bukit Suban) yang menempuh studi di Poltekkes Jambi, Desi Astuti (Desa Bukit Suban) di PGSD Universitas Jambi (UNJA), serta M. Pauzan (Desa Bukit Suban) yang meniti karier di perusahaan swasta di Kalimantan.

Baca Juga :  Jambi Nomor 1 Judol di Indonesia, Hafiz Fattah Prihatin

​”Keberhasilan generasi muda SAD menjadi prajurit TNI, Bintara Polri, hingga mahasiswa perguruan tinggi negeri adalah bukti nyata integrasi sosial yang sukses. Dinsos Sarolangun berkomitmen untuk terus mendampingi agar masyarakat adat dapat hidup mandiri, setara, dan sejahtera tanpa kehilangan identitas kebudayaannya,” tegas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sarolangun, M. Idrus, dalam workshop yang digelar FKPS-SAD di Sarolangun beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Idrus menceritakan singkat sejarah mereka. Menurut Idrus, Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Provinsi Jambi atau dikenal juga sebagai SUKU ANAK DALAM (SAD) adalah kelompok masyarakat adat minoritas yang tinggal di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.

Penyebutan ini menggeneralisasi dua kelompok masyarakat yaitu Orang Rimba dan Suku Anak Dalam. Kubu berasal dari kata ngubu atau ngubun dari bahasa Melayu yang berarti bersembunyi di dalam hutan. Orang sekitar menyebut suku ini sebagai “Suku Kubu”.

Namun, baik Orang Rimba maupun SAD tidak ada yang menyebut diri dan kelompok mereka sebagai Suku Kubu. Oleh karena itu, panggilan ini kurang disukai karena bermakna peyorasi atau menghina dan mereka lebih senang disebut Komunitas Adat Terpencil (KAT)

Baca Juga :  Diduga Pungli Rekam e-KTP, Oknum Dukcapil Patok Rp 50 Per KTP

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.

Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari wilayah Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem kekeluargaan matrilineal.

“Kehidupan mereka seminomaden, dan berkelompok dengan sebutan “Tubo” yang dipimpin oleh seorang “Tumenggung” dan terdiri dari beberapa kepala keluarga. Biasanya pemilihan Tumenggung berdasarkan garis keturunan, tetap” sekarang siapapun bisa dipilih sebagai Tumenggung asalkan dinilai punya kapasitas,” kata M Idrus.

​Dalam hal kepercayaan, mayoritas warga SAD masih memegang teguh tradisi animisme dan kepercayaan agama tradisional. Namun seiring interaksi sosial—khususnya kelompok yang bermukim di sepanjang koridor Jalan Lintas Sumatra—beberapa keluarga kini telah memeluk agama Islam maupun Kristen. (*)