LAMANJAMBI.COM – Ketenangan air di kawasan Dam Betuk siang itu, Selasa (16/6/2026), terasa berbeda. Di atas permukaan air yang tenang, sebuah harapan baru sedang diapungkan bagi warga Suku Anak Dalam (SAD). Melalui program bantuan dari Kementerian Sosial, sebuah keramba jaring apung kini berdiri menjadi simbol babak baru kemandirian ekonomi mereka.
Langkah awal ini tidak berjalan sendirian. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Merangin bersama Yayasan Prakarsa Madani hadir langsung ke lokasi. Mereka turun tangan memberikan pendampingan dan pelatihan intensif agar bantuan tersebut tidak sekadar menjadi sarana fisik, melainkan modal perubahan hidup yang berkelanjutan.
Bagi warga Suku Anak Dalam, atau yang karib disebut Orang Rimba, hutan adalah ibu sekaligus penyedia segalanya. Selama berabad-abad, mereka bertahan hidup dengan cara yang sangat menyatu dengan alam. Hidup berpindah-pindah (melangun) menjadi ritme mutlak ketika sumber pangan di suatu wilayah mulai menipis.
Untuk urusan isi perut, laki-laki SAD mengandalkan ketangkasan berburu babi hutan, kancil, atau menangkap ikan di sungai jernih menggunakan tombak tradisional. Sementara itu, kaum perempuan bergerak mengumpulkan buah-buahan liar, gadung, dan umbi-umbian di dalam rimbunnya hutan. Mereka juga meramu obat-obatan dari dedaunan herbal untuk menyembuhkan penyakit. Namun, seiring menyusutnya luasan hutan akibat pembukaan lahan, cara bertahan hidup yang diwariskan turun-temurun ini kian menemui jalan buntu.
Mengharap kedermawanan alam tak lagi secukup dulu. Binatang buruan menghilang, getah jernangpun sudah habis. Di sinilah, adaptasi baru harus segera dijemput tanpa harus kehilangan identitas diri.
Pergeseran pola hidup dari berburu menjadi pembudidaya tentu membutuhkan pendekatan yang tak biasa. Sadar akan tantangan kultural tersebut, Yayasan Prakarsa Madani dan GP Ansor Merangin bergerak dengan merangkul dinas-dinas terkait, mulai dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA), Dinas Perikanan Kabupaten Merangin, hingga Bank Jambi.
”Ini merupakan wujud keseriusan Pemerintah dalam memperhatikan masyarakat hingga tingkat bawah,” ujar Ketua GP Ansor Merangin, Rhizki Okfiandi, dengan penuh optimisme.
”Kalau dikelola dengan baik, tentunya bisa meningkatkan ekonomi warga Suku Anak Dalam. Maka kita hadir di sini untuk memberikan pelatihan bagaimana cara mengelola ikan dengan baik,” sambungnya.
Senada dengan Rhizki, Ketua Yayasan Prakarsa Madani, Edi Endra, menekankan pentingnya sinergi ini. Baginya, menyentuh aspek ekonomi SAD harus dilakukan lewat bimbingan teknis yang telaten dan konsisten.
”Untuk pengelolaan yang baik, makanya kita menggandeng Dinas Sosial sebagai pendamping SAD dan Dinas Perikanan selaku dinas teknis pengelolaan,” jelas Edi.
Bagi warga SAD yang biasa mendapatkan hasil alam secara instan hari itu juga, budidaya ikan dengan metode keramba jaring apung jelas menuntut kesabaran baru. Mereka harus merawat, memantau, dan menunggu hingga masa panen tiba.
Kepala Dinas Sosial Merangin, Abdul Lazik, memberikan suntikan motivasi langsung di hadapan warga SAD agar mereka memanfaatkan momentum ini dengan serius sebagai sumber penghidupan baru yang menetap.
”Percayalah, kalau kalian bisa mengelola ini dengan baik, maka ini bisa meningkatkan ekonomi dan menjadi penghasilan tetap bagi kalian,” pesannya menyemangati.
Teknis budidaya pun dibedah secara gamblang oleh Sekretaris Dinas Perikanan, Dedi. Dengan pendekatan yang komunikatif, ia mengajari warga SAD mulai dari ritme pemberian pakan yang efektif hingga perawatan teknis keramba agar ikan dapat tumbuh sehat dan bernilai jual tinggi.
”Terimokasih, Kami Biso Tau Kayak Mano Ngelola Ikan,” kata Temenggung Jon.
Raut wajah penuh semangat tampak jelas dari Temenggung Jon. Sebagai pemimpin adat sekaligus sosok yang dipercaya mengelola keramba tersebut, Jon tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas perhatian besar yang kelompoknya terima.
Dengan dialek khasnya yang bersahaja, ia menyampaikan rasa terima kasih. Ada binar harapan bahwa kini mereka punya cara baru untuk bertahan hidup tanpa harus cemas kehabisan buruan di dalam hutan.
”Kami ngucap terimokasih kepado semua pihak hari ini, jadi kami biso tau kayak mano ngelola ikan dengan baik,” ungkap Temenggung Jon haru.
Di balik riak air Dam Betuk hari itu, ada komitmen yang kuat dari berbagai pihak. Melalui jaring-jaring keramba yang terapung, warga Suku Anak Dalam kini sedang belajar merajut masa depan yang lebih mapan, mandiri, dan berdaya di atas kaki sendiri. (*)










